Peta ketersediaan daging sapi nasional pada 2017 diprediksi masih ada ketimpangan yang cukup tinggi dibandingkan permintaan pasar. Setidaknya demikian pandangan Sekjen Perhimpunan Peternak Sapi Dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Rochadi Tawaf. Rochadi memaparkan, jika memegang patokan prediksi pertumbuhan ekonomi nasional sekitar, dengan asumsi rataan konsumsi daging sapi sekitar 2,61 kg/kapita/tahun, dan laju peningkatan permintaan konsumsi yang berkisar 8-10%/tahun, belum dapat diimbangi oleh laju pe ningkatan populasi ternak sapi dan kerbau di dalam negeri. “Butuh sapi siap potong 3,96 juta ekor atau 674 ribu ton daging untuk memenuhi konsumsi,” ujarnya dalam Seminar Nasional AGRINA Agribusiness Outlook 2017 di Jakarta, Kamis (15/12). Sementara, sapi domestik hanya ada sekitar 2,6 juta ekor, berarti akan terjadi kesenjangan antara penawaran dan permintaan. “Selisih 1,36 juta ekor, setara dengan 231,2 ribu ton daging sapi,” imbuhnya.

Prediksi 2017

Dalam rangka mengatasi kesenjangan tersebut, pemerintah mengeluarkan empat kebijakan untuk memenuhi kebutuhan strategis pada 2017. Kebijakan tersebut, yaitu rasio (5:1) impor sapi bakalan dan sapi indukan bagi importir sapi (Permentan No. 49/2016), impor daging kerbau yang berasal dari India (SK Mentan No. 2556/2016), program Siwab (Sapi Indukan Wajib Bunting) 2017 (Permentan No.48/2016), serta membuka impor dari Meksiko, Brasil, dan Spanyol. Empat kebijakan ini, menurut Rochadi, juga tidak akan mampu memenuhi permintaan konsumen pada 2017. Bahkan, kebijakan rasio (5:1) dan impor daging kerbau India akan melumpuhkan bisnis sapi potong di dalam negeri. Pasalnya, ketersediaan sapi indukan impor asal Australia hanya sekitar 20 ribuan ekor/tahun. Artinya, dengan kebijakan tersebut, perusahaan penggemukan sapi di Indonesia hanya bisa mengimpor sapi bakalan sekitar 100 ribuan ekor.

Jadi, masih ada kekurangan pasokan sebesar 1,26 juta ekor sapi siap potong atau setara 214,2 ribuan ton daging. Sedangkan Program Upsus Siwab jika sukses baru akan dipetik hasilnya tiga tahun mendatang. Untuk mengatasi kekurangan pasokan yang mungkin terjadi tahun ini, pemerintah membuka keran impor daging dan sapi bakalan dari dari Meksiko, Brasil, dan Spanyol. “Kendala ketiga negara tersebut adalah jarak tempuh yang menimbulkan pertanyaan kesinambungan suplai,” kata Rochadi. Pertaruhan besar lainnya, kata Rochadi, ialah impor dari negara yang belum terbebas dari Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan bahaya jika terjadi wabah PMK. Sementara Meksiko dan Spanyol, Brasil hanya memiliki zona bebas PMK di wilayah Santa Katarina. Populasi sapinya berkisar 3 juta ekor atau sekitar 1,5% dari total populasi sapi yang lebih dari 200 juta ekor. Rochadi menilai, prospek bisnis daging sapi 2017 sangat dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah. Salah satu yang dapat dilakukan pada 2017 adalah menghitung ulang rasio impor sapi bakalan dan indukan dengan cermat.

Di sisi pengusaha, sebaiknya menciptakan bisnis yang kaptif dan spesifik yang tidak dipengaruhi kebijakan pemerintah. Pengalaman dari 2016, ungkapnya, kebijakan pemerintah tidak memberikan kepastian usaha sehingga iklim usaha tidak kondusif. “Pada 2016, impor daging kerbau dari India 170 ribu ton, malapetaka buat peternak sapi lokal. Harga idealnya Rp110 ribu/kg, kalau dipaksakan Rp80 ribu, maka akan jadi disinsentif peternak,” pungkas pria kelahiran 11 Juni 1953 ini.