S elama hampir seperempat abad Suwadi, mengabdikan hidupnya untuk bertanam melon. Petani dari Desa Timpik, Kec. Susukan, Kab. Semarang, Jateng ini senang lantaran melon mengantarkan kehidupan keluarganya menjadi lebih baik.

Melon Menguntungkan

Menurut Suwadi, buah bernama ilmiah Cucumis melo ini harga jualnya stabil naik. “Melon itu har ganya belum pernah jatuh bahkan sering sekali meningkat,” ujar ayah dua anak ini saat ditemui AGRINA di kediamannya.

Sebagai gambaran, pada 1990 harga melon berkulit kasar dan tebal harganya berkisar Rp1.500/ kg. saat ini harga melon itu berkisar Rp2.500- Rp6.000/kg. Terlebih, dua tahun terakhir Suwadi menanam melon kuning berkulit halus dan tipis yang harganya jauh lebih tinggi dari melon biasa berkulit tebal dan kasar. Harga melon ini berdasarkan level (grade) kualitasnya berturut-turut grade A Rp8.000-Rp9.000/g, grade B Rp6.000- Rp6.500, dan grade C Rp4.000/kg.

Melon grade A berukuran 1,5 kg/buah, ulas Suwadi, grade B berukuran 1,5 kg/buah tapi ada sedikit cacat pada tampilan buahnya karena serangan or ganisme pengganggu tumbuhan (OPT). Sedangkan melon grade C berukuran di bawah 1,5 kg/buah. Dalam setiap musim tanam, lelaki kelahir an 1964 ini biasanya menghasilkan sebanyak 50% buah melon grade A serta masing-masing 25% grade B dan C.

Selain harganya tinggi, biaya produksi melon cukup murah, sekitar Rp5 juta/musim. Ongkos ini un tuk pembelian bibit, pemupukan dan biaya pestisida, mulsa, dan penggunaan tiang ajir dari kayu. Di samping itu, budidaya melon bisa menerapkan sistem tumpang sari dengan tanaman tomat, cabai, buncis, kembang kol, hingga jagung manis. Saat melon sudah berumur 0,5 bulan, Suwadi mulai menanam tomat dengan sistem tumpang sari. Ketika melon dipanen pada umur dua bulan dan tomat su dah tumbuh besar, kebun siap ditanami jagung manis.

Dari semua tanaman tumpang sari itu, ungkap Suwadi, “Yang paling menguntungkan melon karena harga buncis, cabai, tomat, kembang kol nggak bisa dibaca sama sekali. Kalau melon itu harganya sudah bisa dibaca. Dapat satu ton, sudah menerima Rp8 juta.”

Bergantian dengan melon, Suwadi juga kerap me nanam semangka berdasarkan kondisi cuaca. Tapi, buah bernama latin Citrullus lanatus ini membutuhkan lahan yang lebih luas dan tidak bisa tum pang sari dengan tanaman lain. Akibatnya, hasil panen lebih sedikit. “Semangka itu butuh sinar matahari lebih banyak. Jarak antartanaman 5 m. Kalau kurang lebar, sinar matahari kurang ma suk, hasilnya kurang me muaskan,” papar pria yang telah menanam berbagai jenis melon ini. Ia menambahkan, melon tidak perlu lahan luas dan bisa tumpang sari sehingga ada efisiensi tenaga kerja.

Kegagalan Massal

Setiap tahun, pria berusia 52 tahun ini menanam melon sebanyak tiga kali. Awal tanam biasanya pada akhir musim penghujan mulai Maret sampai Mei, sedangkan masa panen pada Mei hingga Agustus. Tahun ini Suwadi memanen sekitar 7 ton melon kuning dari 5.400 batang tanaman per tahun. Hasil ini termasuk panen kategori sedang, tetapi menguntungkan mengingat pengairan yang terhambat karena saluran irigasi yang sedang diperbaiki.

Rerata dalam satu musim tanam, Suwadi memanen melon sebanyak dua kali dan menghasilkan sekitar 2-2,5 ton/siklus dari 1.800 tanaman/siklus di lahan seluas 1.125 m2 . Idealnya dalam sehektar lahan ditanami 16 ribu batang melon.

Dia menerangkan, “Satu batang melon bisa panen dua kali. Satu tanaman diambil dua buah. Saat petik (buah) yang bawah, yang atas sudah pentil lagi. Kalau batangnya kurang sehat, hanya sekali panen. Keuntungan petani sudah ada dari panen pertama. Pada panen kedua, petani tidak butuh tenaga kerja banyak dan pupuk.”

Menurut Suwadi, beban terberat menanam melon terjadi pada umur 30- 50 hari karena banyak serangan OPT, seperti busuk buah, bercak daun, bakteri daun, dan lalat buah. Penyakit utamanya bercak daun. Penyakit ini bisa menyebabkan gagal panen hingga 50% karena daun menjadi kering sehingga tidak bisa melakukan proses fotosintesis. “Umur di atas itu nggak banyak penyakit karena mendekati panen,” lanjutnya.

Tahun ini melon yang ditanam Suwadi mengalami serangan bercak daun. Dampaknya, tampilan buah melon kurang bagus karena jadi ada bercak kehitaman. “Seharusnya masuk grade A. Karena ada ciri-nya (cacat bercak hitam) jadi masuk B,” imbuh dia.

Pada 2015 pun warga asli Semarang ini menghadapi serbuan lalat buah. “Saya menanam sekitar 2.200 batang, banyak yang dimakan lalat buah sehingga berkurang, hasilnya sekitar dua ton,” serunya. Kemudian, ia pun gagal menanam melon pada tahun yang sama karena wabah daun keriting. “Kempel di atas jadi pucuknya itu mbulet, dikasih obat apapun nggak bisa,” ungkap Suwadi dengan logat Jawa yang kental.

Subandi, Staf Marketing PT Tunas Agro, produsen benih hortikultura terkemuka menambah kan, daun keriting itu mewabah sampai di Malay sia. Dugaan pemicunya El Nino kuat. “’Kan panasnya tinggi. Malamnya nggak dingin, siangnya pa nas sekali. itu keriting semua,” ujarnya. Banyak petani yang gagal panen karena wabah daun ke riting.

Meski begitu, Suwadi tetap menanam melon untuk mengganti kegagalan tanam. “Sempat panen tapi berhasil di tanaman kedua, panennya 1,2 ton,” kenangnya.

Suwadi memang tidak menyerah meski banyak tantangan bertanam melon. Terbukti, setelah 26 ta hun bergelut budidaya melon, ia mampu menye kolahkan anaknya hingga perguruan tinggi dan keluarganya hidup berkecukupan.

Dulu pria sederhana ini hanyalah buruh penggarap lahan sawah orang lain, perlahan ia bisa menyewa lahan milik desa dan kemudian sanggup membeli sawah di lima lokasi. Ia juga sudah membangun dua rumah tinggal baru dan beternak sapi pedaging sebanyak empat ekor. “Saya merasa bahaga karena bisa menghidupi keluarga walaupun masih ada kekurangan,” pungkasnya sambil tersenyum.